Cerita au pair memang banyak yang menggembirakan dan seru, tapi banyak juga yang mengalami kisah sedih dan penuh penyesalan. Sekali lagi, tidak ada yang bisa menjamin kalau keluarga angkat benar-benar akan memperlakukan kita seperti seorang au pair, bukan nanny atau housekeeper. Bahkan seorang agensi pun, tidak bisa memberi jaminan apakah calon keluarga dan calon au pair itu baik atau tidak.
Suatu pagi, saya salah aksi yang akhirnya membuat host mom marah besar. Berawal dari kesalahan menaruh keju di kotak makan yang sama, akhirnya si hostmom pagi-pagi sudah kesal dan mengatakan kalau kontrak ini tidak akan bisa bertahan setahun. Katanya dia perlu orang yang lebih detail, fleksibel, dan dinamis mengasuh anaknya. Sementara saya, cenderung cepat bosan dan tidak inisiatif.
Kesalahan-kesalahan saya beberapa bulan lalu diungkapkan dan seolah-olah membuat semuanya adalah kesalahan saya. Yang membuat saya dongkol lagi, saat day off dan sedang di luar, host mom masih sempat-sempatnya kirim pesan WhatsApp yang komplain kenapa bagian bawah sofanya terlihat menjijikkan karena tidak saya sapu. Padahal dia tidak pernah minta.
Kedua, saya juga tidak pernah melihat cleaning lady-nya vacuuming sampai ke bagian bawah sofa. So, I thought, clean what you can see saja. Lagipula, itu hari libur saya! Kenapa dia tidak coba diskusikan besoknya saja? Toh saya memang selalu di rumah.
Padahal dari awal kontrak dia sudah menekankan untuk lebih fokus ke anaknya daripada ke pekerjaan rumah tangga. Ternyata, semakin hari semakin banyak tugas bersih-bersih dan selalu dicek. Lucunya, tidak ada yang pernah sempurna di mata host mom. Selaluuuuu saja ada yang kurang dan membuat dia menegur lagi dan lagi. Padahal selama ini dia tidak pernah menjelaskan mana yang sempurna mana yang tidak.
Makanya ketika ada teman atau kenalan yang ingin jadi au pair, saya tekankan untuk mengenal dulu kondisi keluarga, pekerjaan, dan anak yang akan diasuh sebelum langsung menerima pekerjaan tersebut. Hal ini untuk menghindari masalah jam kerja yang sering overworked atau miskomunikasi yang sering terjadi.
2 komentar
Hallo boleh minta alamat email nggak? Ada beberapa hal yg saya ingin tanyakan soalnya kisah diatas sam persis dengan apa yg saya alami sekarang di jerman..
Hi Melati..
Boleh banget! Cerita2 ke email saya ini ya: [email protected]