Finding My Thor




“Nin, have you found your Thor?” tanya Michi kepo beberapa waktu lalu.

Thor, dalam mitologi Nordik kuno adalah seorang Dewa Petir, anak dari Dewa Odin dan Raksasa Jord. Di dalam Marvel Comics, Thor disebut berasal dari Asgard yang merupakan wilayah bagian Troms di Norwegia Utara. Karena saat itu sedang hebohnya film trilogi Thor di bioskop, Michi mungkin ingin mengaitkan dengan progress kisah percintaan saya di Norwegia.

Sebetulnya saya lagi malas membahas soal personal, apalagi yang berhubungan dengan lelaki. Tapi karena berulang kali menyebut namanya di postingan terdahulu, tak ada salahnya saya perkenalkan cowok Norwegia yang saya panggil Mumu ini. Kalau di Denmark saya pernah cerita soal Bunny, cerita saya di Norwegia mungkin tak akan pernah lepas dari Mumu.

Mumu adalah cowok yang saya kenal Desember 2018 lalu via Tinder. Yayaya.. online dating lagi. (Coba baca disini kenapa ujung-ujungnya bule lagi bule lagi!) Sebetulnya, saya juga sudah lelah dengan dating scene di Eropa dan lama berusaha menarik diri dari episode kencan lainnya. Satu hari, karena penasaran dengan karakter cowok Norwegia sekilas di dunia maya, saya unduh kembali lagi aplikasi ini sebagai riset singkat. Baru sehari dibuka, saya rasanya minder melihat profil cowok-cowok Oslo yang hampir semuanya out of my league.

Bukan apa, host family saya ini juga pasangan muda yang kehidupan sosialnya luar biasa luas. Banyak teman dekat mereka yang sering saya perhatikan punya gaya hampir sama; mapan, profesional, dan keren! Seragam ternyata dengan cowok-cowok asli Norwegia yang saya lihat di Tinder karena gaya hidupnya tak jauh dari alam dan olahraga mahal. Semua profil cowok-cowok muda Oslo ini pasti tak pernah absen dari foto-foto kegiatan luar ruangan yang memamerkan gaya hidup ala friluftsliv atau dekat dengan alam. Tak hanya cowok lokal, cowok asing pun seperti punya syarat yang sama untuk ikut pamer kegiatan outdoor kalau tak ingin dicap membosankan oleh cewek lokal.

Me, as a lazy Indonesian, boro-boro bisa ski, jalan kaki saja baru tahan kalau hanya terpaksa. Apalagi saya mendengar bahwa strata sosial di kota-kota besar di Norwegia ini begitu terasa. Cowok mapan nan sukses, pastinya juga mencari pendamping yang setidaknya punya hobi seragam atau pekerjaan bagus. Karena selain pendamping, orang-orang Norwegia juga berusaha mencari networking yang luas. Lha saya, dari hobi saja sudah tak sama, apalagi karir. Jadinya minder sendiri kan.

Hari ke-5 buka Tinder, keseragaman yang ada terasa membosankan. Hampir saja saya hapus aplikasi kencan ini, sampai akhirnya berlabuh ke profil cowok berfoto dua biji yang tak ada sisi-sisi Norwegianya sama sekali. Profilnya pakai bahasa lokal hanya tertulis “mencari keseriusan” dan dua foto selfie tanpa latar belakang lautan, gunung, atau Pegunungan Alpen. Penasaran juga apakah orang ini hanya imigran Eropa lain ataukah memang wujud dari sebuah ketidakseragaman yang sering saya lihat di Tinder.

Baca juga: Aturan Nama Anak di Wilayah Nordik

Karena tidak ingin langsung swipe, saya tutup dulu aplikasi Tinder dan buka lagi besoknya. Eh, profil dia masih disana. Swipe left, but he seemed nice (yet nerd). Hmmm.. I am not a perfect woman either. Swipe right then!

Aaaaannnddd…. here we are now!

Dia asli orang Norwegia. Setelah 8 bulan kenal, saya tak menyesal dengan ketidakseragamannya karena merasa he is the sweetest guy I have ever met in Europe! Doi bisa saja tiba-tiba membawakan bunga tanpa diminta, melakukan banyak hal atas inisiatif sendiri, serta membaca kode murahan saya yang kebanyakan cowok tak peka.


Doi memang bukan tipikal the real Norwegian yang tergila-gila dengan olahraga mahal. Sure, dia bisa ski, karena memang itu bakat alami orang Norwegia. Tapi Mumu tidak seperti teman-teman host family saya yang hampir semua olahraga dilakoni; mulai dari berlayar sampai main golf. Doi cowok kampung yang gaya hidupnya malah lebih mirip orang Denmark; santai dan lebih menikmati quality time bersama orang terdekat. Ketimbang menekuni olahraga tertentu, Mumu lebih tertarik dengan sejarah dan penemuan tua. Tak heran mengapa doi tak keberatan diajak ke museum sampai membeli metal detector demi hobinya menemukan koin-koin tua di bawah tanah. Karena kesederhanaannya inilah, saya merasa tak terdoktrin untuk jadi sporty dan aktif layaknya orang-orang lokal demi menemukan pasangan lewat media daring.


Seperti cowok-cowok Norwegia juga pada umumnya, Mumu adalah family man yang sangat memprioritaskan keluarga di atas segalanya. Doi juga pecinta binatang yang tidak akan berani membunuh lebah sekali pun. Saya lagi-lagi serasa bertemu the softest guy ever! Satu lagi, Mumu ini sangat pintar bersih-bersih. Seperti punya OCD, bisa dibilang! Cara menyusun dishwasher ada tekniknya. Cara melipat baju ada seninya. Cara mengelap debu pun harus ada etikanya. He’s better than all of us, I bet!

Saya tahu Mumu menjadi spesial karena saya sudah malas mengenal cowok lain dan menghapus Tinder beberapa minggu setelahnya. He’s more than a special one, karena dia juga adalah teman di waktu senggang.

Label:budaya kencan bule Norway cowok Eropa cowok Norwegia kenalan dengan bule Norway online dating pacaran dengan bule tinder

12 komentar

  1. rofiimams 路 5 August 2019

    mumu….imut sekali saya membayangkan dari namanya hehehe…..

    Reply
    1. Nin 路 5 August 2019

      Padahal anaknya enggak imut 馃槅
      Hanya aja emang mukanya kayak anak mama, anak baek2.

      Reply
  2. Barracuda 路 7 August 2019

    Thank for sharing,. sukses terus ..

    Reply
  3. Anonymous 路 1 June 2021

    kakkk, cerita ttg mumu lagi dong wkwkwk
    btw hope that you’re both happy & safe now <3

    Reply
    1. Nin 路 3 June 2021

      Thank you! 馃槈

      So far, memang belom ada apdet lagi nih tentang doi. Nanti kalo ada ya.

      Reply
  4. Permit Ditolak, Pulang ke Indonesia! – ART OCH LINGUA 路 6 October 2026

    […] riset semua tentang perusahaan tersebut dan membuat sendiri poin yang kemungkinan akan ditanyakan. Mumu adalah saksi hidup dimana setiap hari mulut saya selalu praktek menjawab pertanyaan seperti […]

    Reply
  5. My Home, My Rules – ART OCH LINGUA 路 6 October 2026

    […] own home! Tahu selepas kontrak masih harus tinggal di Norwegia karena lanjut kuliah, saya dan Mumu memang sudah memutuskan untuk tinggal bersama (kohabitasi) di awal 2020. Saya sudah mengenal Mumu […]

    Reply
  6. How Are You, Nin? – ART OCH LINGUA 路 6 October 2026

    […] sedih tak bisa pulang ke Indonesia, tapi saya super excited merayakan Natal di Norwegia bersama Mumu dan keluarganya. It was my first Christmas with him dan kami berdua sudah janjian di awal untuk […]

    Reply
  7. Bahasa, Tantangan Terbesar Hidup di Norwegia – ART OCH LINGUA 路 6 October 2026

    […] tak hanya berguna untuk cari kerja, tapi juga bersosialisasi. Pertama kali kenalan dengan keluarga Mumu di awal tahun 2019, saya terpaksa harus praktik bahasa Norwegia lebih sering karena orang tua Mumu […]

    Reply
  8. Semester Tiga: Kuliah, Magang, Kerja Sambilan – ART OCH LINGUA 路 6 October 2026

    […] I think you have spent too much time on that startup company but earned nothing,” kata Mumu ketika saya mintai pendapat. True. I don’t get any penny. Tapi saya juga belum mau resign […]

    Reply
  9. Camping Date di Finnemarka: Seru Tapi Menggigil! – ART OCH LINGUA 路 6 October 2026

    […] yang sempat mati beberapa waktu, akhirnya bisa bernapas kembali. Tak terkecuali bagi saya dan Mumu yang memang sudah punya rencana untuk liburan sebentar tahun ini. Karena saya sudah pernah ke […]

    Reply
  10. The Bunad Dreams – ART OCH LINGUA 路 6 October 2026

    […] tengah kota, tapi saya sangat beruntung bisa memakai Bunad asli dari Lofoten, Nordland milik ibunya Mumu! Meskipun sedikit kebesaran di bagian dada, tapi the chance of wearing an old and genuine Bunad […]

    Reply

Tulis komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *