
Meskipun niat saya di awal tidak berminat lanjut kuliah lagi, nyatanya saya pun berbelok arah untuk mencoba peruntungan daftar kuliah S-2 di beberapa kampus di Norwegia. Alasan utama saya memilih Norwegia tentu saja karena negara ini masih membebaskan uang kuliah bagi mahasiswa lokal dan internasional. Kesempatan ini tentu saja saya manfaatkan sebelum regulasi tersebut diubah menjadi ‘berbayar’ seperti halnya Finlandia per Autumn semester 2017 lalu. Tapi meskipun biaya kuliah gratis, mahasiswa tetap harus membayar iuran semester sebesar NOK 680-840 (€68-84).
FYI, dulu saya pun juga bersumpah untuk tidak akan pernah mau lanjut kuliah kalau masih harus bayar sendiri. Kuliah saja sudah melelahkan, apalagi harus cari uang dulu demi menutupi biaya hidup. Makanya saya berpikir untuk cari beasiswa agar bisa fokus kuliah saja. Nyatanya, saya minder cari dana beasiswa karena sadar IPK pas-pasan dan malas minta surat rekomendasi dari kampus. Sssttt.. saya pernah di-PHP dosen soalnya. Di sisi lain, saya dengar bahwa pengelola dana beasiswa sangat strict dengan penerima hibah untuk harus mempertahankan prestasi akademik dan dilarang bekerja sambilan selagi kuliah. Padahal mood belajar seseorang bisa naik turun dan minta dana beasiswa—apalagi yang berasal dari uang rakyat, pastinya punya tanggung jawab yang besar.
Jadi bagaimana saya menyokong kehidupan disini hingga 2 tahun ke depan?
Lalu, bagaimana di semester-semester selanjutnya?
Kontrak au pair saya berakhir Desember tahun ini, makanya harus mencari tempat tinggal dan pekerjaan baru secepatnya. To be honest, I can’t wait to have my own life! Tidak perlu lagi tinggal di rumah orang dengan segala peraturan kaku, serta bebas mengundang siapa pun teman yang saya mau. Saya juga sangat tertarik bekerja di tempat lain semisal kafe, toko, atau restoran, yang tentu saja terbebas dari tangisan dan popok bayi! Di sisi lain, saya merasa beruntung sudah curi start duluan tinggal di Norwegia dan belajar bahasa, sehingga bicara bahasa lokal lumayan bisa. It’s not gonna be easy to find a job with broken Norwegian, but I am pretty sure I’ll learn more and more!
Pengalaman soal cari tempat tinggal dan pekerjaan baru ini tentu saja akan saya bahas di postingan lainnya. But, now you know bagaimana saya bisa menyokong kehidupan sendiri tanpa beasiswa dan dana orang tua!
11 komentar
You will be fine, Nin. After 5 years fighting and struggling hard, you will get the reward. I know you will. As the old proverb said, “Save the best fot last”. I believe you can finish your college life nicely. And when people ask, what are you doing in Norway, be proud to say, “I’m a college student”, just like you said in Denmark. I believe you can, Nin. God bless you always!
For whoever you are, terima kasih banyak ya 🙂
Kalo untuk sekarang, ngakunya tetep au pair karena memang masih terikat kontrak sampe akhir tahun ini. Tapi kalo setelah itu, ya pasti ngakunya pelajar ;D
Kamu juga ya! Sukses selalu ke depannya for whatever you are doing :>
Keren banget kak. Aku pun cuma punya seorang ibu di rumah. Dan sudah cukup sepertinya s1 aja kasian. Tapi tetep pengen punya banyak ilmu dan pengalaman. Semoga bisa kek kakak ya. Ada niat tahun ini setelah kuliah selesai
Aduh. Aku biasa aja, beneran. Au pair yang lanjut kuliah setelahnya juga BANYAK kok 🙂 Hanya aja mungkin mereka gak ada blog & gak bisa cerita.
Mudah2an kamu bisa menggapai impian yang kamu mau ya 🙂 Entah kuliah berbayar ataupun beasiswa.
Keren banget. Jadi pingin juga nih. Sayangnya aku udah berumur. Kira-kira bisa nggak, Neng. Buat kuliah di situ. Cari nya PhD. Kalo kerja kasar mah sejak SD juga sudah jualan es lilin. SMA jadi loper koran, terus penjaga toko. Pernah juga jadi pengasong di Terminal.
Terimakasih ya, Neng.
Kerenlah jadi pekerja kasar, punya banyak pengalaman mencari rezeki di jalanan bebas 🙂
PhD bisa2 aja, kalo memang sedang ada lowongan risetnya. Coba2 aja daftar kalo emang bidangnya sesuai dengan S2 kemaren.
Baca tulisanmu itu serasa terbang ke alam bebas, negeri yang jauh dan mimpi + angan2 saat masih kecil. God bless wherever you are Nin
Hihihi.. Jadi kek cerita fiksi ya jadinya o:)
Thank you so much for dropping by!
[…] senasib sepenanggungan, makanya tahu betul rasanya tak punya uang jaminan kuliah. Baca juga: Kuliah Biaya Sendiri: Uang Dari Mana? Pinjam kanan kiri dari teman ini menurut saya punya resiko tinggi mengingat urusan uang itu super […]
[…] ingin dapat beasiswa tiap bulan tanpa perlu repot-repot dan capek memikirkan soal biaya hidup. Kuliah dengan biaya sendiri itu super duper berat, Sodara! Tapi apa daya, saya tahu diri. Nilai IPK pas-pasan, malas minta […]
[…] Saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan formal setelah 5 tahun hanya berkutat dengan anak-orang & tugas rumah tangga saja. Kesempatan ini saya gunakan karena banyak kampus di Norwegia masih membebaskan biaya kuliah bagi mahasiswa lokal dan internasional. Meskipun begitu, biaya hidup yang tinggi juga cukup memberatkan apalagi saya kuliah pakai biaya sendiri dan tanpa sponsor. […]