Delapan tahun lalu ketika saya mulai penasaran tentang au pair dan melakukan riset simpel di internet, hanya 3 negara yang paling sering disebutkan ceritanya, yaitu Belanda, Jerman, dan Prancis. Yang saya tahu, dua negara terakhir memang wajib menyertakan sertifikat bahasa sebagai syarat kelengkapan dokumen visa. Karena sertifikat bisa didapat setelah lulus tes, maka kebanyakan au pair yang memilih dua negara ini biasanya adalah para mahasiswa sastra atau yang sebelumnya memang sudah pernah belajar bahasa tersebut. Para mahasiswa sastra biasanya memanfaatkan kesempatan ini sebagai ajang praktik bahasa sekaligus belajar budaya di negaranya langsung.
Beberapa tahun lalu, banyak juga mantan au pair Jerman dan Prancis yang sekembalinya ke Indonesia menuturkan kisahnya ke para junior. Seorang kenalan pernah bercerita bahwa salah seorang seniornya di kampus sempat mendatangi satu persatu kelas untuk mempromosikan program au pair Jerman. Makanya dulu, Jerman dan Prancis paling populer dikarenakan motivasi au pair Indonesia yang ingin belajar bahasa di level lanjutan.
Sekarang, tujuan orang Indonesia jadi au pair tak hanya perkara jalan-jalan. Ada yang memang sengaja jadi au pair demi mengumpulkan uang untuk keluarga. Ada juga yang tujuannya cari jodoh dan punya keturunan bule. Ada juga yang lari untuk healing karena putus cinta. Ada yang karena ingin reunian dengan keluarga atau pacar. Atau ada juga yang menjadikan au pair sebagai batu loncatan demi studi di negara orang. Jika dulu ke Jerman tujuannya ingin memoles bahasa, sekarang banyak yang ingin jadi au pair untuk menetap lebih lama menggunakan program lain seperti pelatihan magang (Ausbildung) atau pekerja sosial (Freiwilliges Soziales Jahr, FSJ). Pergeseran motivasi ini semakin menunjukkan bahwa luar negeri bukan lagi dilihat sebagai tanah petualang, tapi juga lubang aneka kesempatan.
Saya tak mengikuti perubahan regulasi tiap negara dari tahun ke tahun. Tapi saya tahu bahwa 9 tahun terakhir ini sudah banyak negara yang mengubah regulasi au pair dari mulai meningkatkan biaya visa, mempersingkat batasan umur, meniadakan sertifikat bahasa, sampai menaikkan uang saku bulanan. Yang jelas, aturan diubah mengikuti perkembangan zaman dan perbaruan laporan keimigrasian.
Ada juga Prancis, yang semakin mengendurkan peraturan visa au pair dengan cara meniadakan sertifikat lulus CEFR minimal level A2. Lalu Belanda, yang dulunya sering jadi muara bagi para au pair akhir usia 20-an, Oktober tahun depan mulai membatasi usia maksimal 25 tahun saja. Ada Swiss yang di tahun 2015 betul-betul menutup semua pintu
canton untuk au pair non-Eropa, lalu akhirnya perlahan membuka kembali beberapa wilayah bagi pemegang paspor Indonesia. Austria, yang semakin menarik minat daripada Jerman karena jam kerja yang lebih sedikit dan gaji lebih tinggi. Atau yang paling
hot, soal
program au pair di Norwegia yang rencananya akan dihapuskan mengingat sering terjadinya kasus buruk di negara ini selama bertahun-tahun.
Perubahan regulasi di atas hanyalah segelintir informasi yang saya tahu belakangan ini. Ada banyak lagi peraturan lain yang sudah disahkan; baik untuk mempermudah atau justru mempersulit masuknya orang Indonesia ke negara mereka. Ada yang ingin menambahi?
4. Populasi
Meskipun 8 tahun lalu informasi tentang au pair mulai terbuka secara publik dan tak terbatas kepada anak-anak sastra saja, namun tak banyak orang Indonesia yang jadi au pair di Eropa. Seperti yang saya sebutkan di atas, 3 negara favorit yang jadi tujuan orang Indonesia hanyalah Belanda, Jerman, dan Prancis. Selain tujuan au pair, negara ini juga sangat populer di kalangan para pelajar dan penerima beasiswa. Jadi tak heran kalau lebih banyak au pair Indonesia bermukim di negara tersebut ketimbang negara lain.
Contohnya, ketika saya jadi au pair di Belgia dan kenalan dengan rekan sesama au pair Indonesia di sana, jumlah kami semua tak sampai 10 orang. Kami saling mengenal siapa-siapa saja yang tinggal dari utara sampai selatan Belgia. Dari 10 orang ini, hanya tiga di antaranya yang murni berangkat dari Indonesia, termasuk saya. Sisanya adalah para senior yang lebih dulu jadi au pair di Belanda. Kata mereka, sudah sangat normal kalau Belanda dan Belgia dijadikan switches bagi para au pair Indonesia. Lebih sering, Belanda dijadikan tujuan utama, lalu selanjutnya Belgia. Makanya, dulu orang Belgia masih awam dengan au pair dan sangat penasaran dengan muka-muka asing yang bermukim di pedesaan, saking jarangnya au pair non-Eropa tinggal di sana.
Tak hanya Belgia, setahun setelahnya ketika saya jadi au pair di Denmark pun, populasi au pair Indonesia di negara ini tak lebih dari 10 orang. Bisa saja hitungan saya missed karena banyak yang tak terdeteksi. Tapi mengingat Denmark hanyalah negara kecil yang populasi orang Indonesianya juga tak seberapa, rasanya negara ini juga bukanlah tujuan utama bagi para au pair Indonesia. Grup au pair Indonesia di Denmark yang dibuat rekan saya saat itu pun hanya berisi 4 orang. Namun satu tahun setelahnya, boom… grup yang tadinya hanya berisi 4 orang, bertambah jadi totalnya 13 orang! Setelahnya, saya sampai tak kenal lagi generasi junior di bahwa saya saat ditanya, “kenal si ini tidak? Kenal si itu tidak?”
Itu 5 tahun lalu. Sekarang, jumlah au pair Indonesia di Belgia dan Denmark tak lagi dalam hitungan jari. Karena informasi semakin meluas dan banyak orang tahu bahwa uang saku au pair di Denmark dan Belgia cukup tinggi, dua negara ini mulai dilirik banyak au pair Asia. Apalagi Denmark sering dipilih oleh mereka yang sudah mepet hampir 30 tahun, tapi masih ingin punya kesempatan tinggal di Eropa lebih lama. Sementara Belgia sering dipilih
first timers yang usianya di bawah 25 tahun karena negara ini punya batasan usia yang pendek.
But I do adore Belgium! Dari soal lokasi, makanan, bahasa, serta budaya, saya cenderung lebih suka Belgia ketimbang Belanda yang
overpraised π
5. Ekspansi
Ketika populasi au pair Indonesia di Eropa mulai meningkat, itu artinya banyak orang tak lagi hanya mengenal Belanda, Jerman, dan Prancis. Para au pair yang merampungkan kontraknya di Jerman biasanya bertandang ke Austria atau Swiss yang sama-sama
German-speaking countries. Selaras bagi para au pair Skandinavia yang biasanya sering pindah-pindah negara antar Eropa Utara karena sudah terbiasa dengan budayanya. Sangat mudah beradaptasi dengan budaya Swedia, jika sebelumnya kamu pernah tinggal di Denmark. Atau sebaliknya,
belajar bahasa Denmark lebih gampang jika sebelumnya kamu pernah
belajar dan paham Norsk.
Karena sumber informasi yang tak langka lagi serta regulasi yang mudah dipelajari inilah, membuat banyak orang Indonesia semakin fleksibel melebarkan langkahnya ke banyak negara. Misal,
membuat visa au pair ke Belgia jauh lebih sulit ketika kita masih berada di Indonesia versus jika kita sudah berdomisili di Eropa. Sama halnya dengan Norwegia yang memperbolehkan pemegang KTP salah satu negara Schengen untuk langsung masuk ke negaranya dan menunggu
proses izin tinggal au pair di negara tersebut. Kalau masih tinggal di Indonesia,
boro-boro bisa langsung dapat visa, untuk menunggu prosesnya saja butuh waktu berbulan-bulan.
Tak hanya sampai di situ, penyebaran populasi au pair Indonesia di banyak negara ini juga didukung oleh pengaruh masif dari media sosial. Jika dulu banyak yang tergugah ingin ke luar negeri karena baca buku atau blog, sekarang imej visual membuat imajinasi terlihat lebih nyata. Ada banyak sekali au pair yang berbagi gambar atau video tentang kegiatan mereka di luar negeri. Karena melihat banyak konten menarik ini, makanya banyak yang terpengaruh ingin jadi au pair juga.
Ssstt.. bahkan negara ‘baru’ seperti Turki yang tak masuk dalam
daftar rekomendasi saya pun mulai digadang-gadang jadi
the next pit orang Indonesia!
Tapi tahukah kalian kalau dulu saya pernah ditegur teman karena sering berbagi cerita dan gambar-gambar beberapa penjuru Eropa?! Konteksnya hanya bercanda ya, tapi si teman merasa bahwa masifnya orang Indonesia yang ingin jadi au pair sekarang juga salah satu penyebabnya adalah baca blog saya π Cerita saya tak hanya bersifat informatif tapi juga inspiratif. Lewat blog (dan media sosial), saya terlalu detail berbagi cerita sampai akhirnya membuka mata banyak orang yang juga ingin merasakan pengalamannya langsung. “Don’t forget to educate your readers, Nin!” pesan teman saya yang kelihatannya semakin was-was ada sebagian oknum au pair mulai menciptakan citra buruk di beberapa negara.
Saya tak memungkiri. Setiap bulannya, ada ribuan orang yang mampir ke blog ini karena mencari informasi tentang au pair, studi, ataupun romantisme dengan cowok bule. Pun saya harus mengakui, bahwa saya juga sering menerima pesan dari orang-orang yang mengatakan ingin mengikuti jejak saya setelah baca blog ini. Can I be proud for a second? π
Masalah motivasi kalian jadi au pair untuk apa, sejujurnya bukan urusan saya. Yang sering saya tekankan, gunakanlah kesempatan ini untuk menikmati masa muda mu karena program ini memang se-cool itu jika dimanfaatkan dengan benar! Saya jelas tak mendukung praktik ilegal hanya demi berdomisili di satu negara. Karena sesungguhnya, beberapa regulasi au pair ada yang diperketat juga disebabkan laporan keimigrasian tentang ulah imigran dari negara-negara bermasalah. So, bawa nama Indonesia dengan baik dan jadilah tamu yang taat peraturan di negara orang! Isnβt it that hard?
Menurut kalian, apa yang akan terjadi dengan program ini sepuluh tahun ke depan? Apakah semakin banyak anak muda yang berniat meninggalkan Indonesia dan jadi au pair?
8 komentar
udah 2 kali coba apply visa au pair ke perancis 2 kali, tapi masih tetep di tolak. umur sudah 25+ dan tapi gak bakalan nyerah kok. cita – citanya simple, pingin banget ke eropa dan ngerasain winter. seenggaknya, mimpi dari kecil dulu udah selangkah maju ya, soalnya udah mencoba apply visa tapi di tolak! never give up pokoknya:))
Kalo udah 2x ditolak, menurut aku, gak cukup dengan modal usaha doang, Cha π Kayaknya ada problem di dua aplikasi kamu sehingga imigrasi nolak.
Saran aku, coba yang ketiga kali nanti dicek bener2 dan ganti strategi deh. Kemarenan ada yg curhat juga ke aku ttg aplikasi visa au pair Prancis dia yang ditolak. Aku suruh ganti taktik biar lebih meyakinkan.
Kalo impian kamu sesimpel “ke Eropa dan liat salju” doang sih, gak harus ke Prancis kok. Malah di Prancis jarang saljuan kalo gak tinggal di deket gunung. Ke Eropa Utara deh! Dijamin saljuan terus tiap tahun π Tapi kalo Denmark saljunya gak deres2 banget karena cenderung anginan.
Good luck ya persiapannya! Semoga impian kamu tercapai SOONER or LATER! π
hai kak! aku tadi lagi nyari-nyari info tentang ausbildung di jerman, terus nemu aupair. akhirnya aku search tentang aupair dan nemu blog kakak hehehe. aku dari SMA punya mimpi buat tinggal di jerman, baik itu kuliah ataupun kerja di sana. sekarang aku lagi kuliah di salah satu univ di Indo dan lagi ikut program kursus bahasa jerman level A2. sekarang aku udah tau tujuan aku setelah lulus S1 nanti. aku pengen ikut program aupair dan ngelanjutin S2 di Jerman. menurut kakak apa itu mungkin? hehehe sebelumnya terimakasih kak atas info-info yang udah kakak bagiin di blog ini!! semoga kakak bahagia selalu ya! <3
Yang membuat kamu ragu apa memangnya, kalo boleh tau? π
Hai Kk,senang bisa dpt info ttg AU pair dari Kk,Terima kasih ka.Sy pengen ke Eropa utk belajar hal2 baru dan juga bekerja Sbg Au pair disana stelah lulus pendidikan D4 ku,Sy sejak SMA sdh belajar mandiri dan bahkan kuliah sambil krj,Puji Tuhan. Skrg pengen coba ke LN lagi smg mimpi Sy bisa jadi kenyataan yah,Ka..ππ½π ohh yah apasaja jenis pekerjaan yg bisa Sy dapatkan disana stelah jdi AU pair yah,Ka ? Tlg dijwb yah Kaπ
Melinda_
Hai Melinda,
Semoga setelah lulus kuliah, kamu bisa sesegera mungkin mewujudkan mimpi kamu ke luar negeri ya π
Untuk kerjaan, aku gak bisa banyak komen. Karena au pair itu nyatanya cuma 1-2 tahun kontrak doang. Gak banyak kerjaan yang bisa kamu apply, kecuali kamu ambil program lain. Semisal kayak yang di Jerman, banyak yg setelah au pair kerja di panti jompo gitu.
Hi kak, terimakasih udah bagiin pengalaman Au pair. Aku baru dgr au pair pas akhir SMA (2021). Dimna bisa menjadi jalan alternatif buat tinggal diluar negeri. Dan di 2022 ini aku coba buat daftar Au pair ke Belanda, agak dadakan karena nyari kerja dsni cuma intv ga dipanggil ampe setaun bgtu terus, akhirnya tiba2 keinget au pair langsung nyoba daftar, masih buta harus siapin apa aja dan cari2 negara yang syaratnya ga susah (tnpa setifikat bhs). Impian aku, supaya bisa lebih mengenal dan terjun langsung di lingkungan eropa dan klo bs stlh selesai kontrak au pair aku juga mau studi di sana, kira2 klo studi beasiswa itu possible ga ya kak?
kalau berkenan aku mau tnya lebih dalam sama kk lwt media sosial atau media cht gtu π
thx kakak
Sebetulnya pertanyaan kamu udah sempet aku bahas di blog, lho! π Dari yang soal apa step by step-nya sampe peluang apa aja yang bisa kamu raih setelah jadi au pair; salah satunya ya lanjut kuliah. Kalo ada waktu, saran aku bisa cek postingan blog aku via tablet/laptop biar bisa liat archive tahun2 pertama kali aku au pair dulu sampe dengan sekarang π